Idealisme yang mereka bicarakan hanya ada di forum-forum, tapi diabaikan tatkala kekuasaan harus direbut olehnya dan kelompoknya. Dalam posisi ini mereka tak lagi memikirkan kepentingan bersama meskipun yang selalu mereka bicarakan adalah memperjuangkan hak rakyat. Rakyat yang mana? Dari sinilah mereka bermula, dari kampus-kampus saat mereka adalah menjadi Mahasiswa. manusia yang harusnya menjadi harapan pembaharu. Sayangnya tidak demikian adanya.
Silakan kirimkan tulisan gagasan, kritik dan inisiasi ke email: peduli.energi@yahoo.co.id untuk diterbitkan di Blog FMPE
Thursday, 30 October 2014
Anggota DPR, Titisan Aktivis Kampus yang gagal Move On
Idealisme yang mereka bicarakan hanya ada di forum-forum, tapi diabaikan tatkala kekuasaan harus direbut olehnya dan kelompoknya. Dalam posisi ini mereka tak lagi memikirkan kepentingan bersama meskipun yang selalu mereka bicarakan adalah memperjuangkan hak rakyat. Rakyat yang mana? Dari sinilah mereka bermula, dari kampus-kampus saat mereka adalah menjadi Mahasiswa. manusia yang harusnya menjadi harapan pembaharu. Sayangnya tidak demikian adanya.
Tuesday, 28 October 2014
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2001 (Bag-2 Penjelasan)
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2001 (Bag-1)
Perkembangan Tata Kelola Migas di Indonesia (1900-2012)
Monday, 27 October 2014
Masih adakah SAMPAH PEMUDA di Hari SUMPAH PEMUDA?
Sunday, 26 October 2014
Susi Jadi Menteri, Benar-Benar Revolusi Mental
Terpilihnya Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan adalah sesuatu yang tidak biasa. Dan tentu ini menyentak khalayak ramai dikarenakan latar belakang pendidikan dari Sang Menteri yang hanya lulus SMP.
Banyak berita miring yang kemudian beredar dan meragukan kinerjanya lantaran dinilai hanya berijazah SMP. Dan anehnya itu dijadikan sebuah argumentasi untuk ikut menyerang presiden Jokowi oleh mereka yang memang sejak dulu tak pernah mendukung apapun dari Jokowi. Mereka menyebutkan bahwa Ibu Susi bukan dari kalangan Profesional ataupun Akademisi lantaran hanya berijazah SMP. Sayangnya dari argumentasi-argumentasi itu justru menunjukkan bahwa orang-orang seperti ini telah terjebak pada sebuah bencana yang menjadikan sertifikat sebagai tolak ukur kemampuan seseorang atau disebut 'Disaster of Certicate'. Meskipun orang yang bersertifikat bisa memenuhi standar dari apa yang disebutkan di dalam sertifikatnya itu. Tapi tidak menutup kemungkinan orang bisa lebih ahli meskipun tidak dibukyikan dengan sertifikat/ijazah dan semacamnya.
Memang pada akhirnya tak ada jaminan bahwa Ibu Susi adalah benar-benar mampu menjalankan tugas sebagai Menteri. Tapi bagi saya dengan melihat latar belakang yang hanya lulusan SMP dan bisa memiliki usaha yang sukses seperti SUSI AIR adalah sebuah bukti otentik melebihi dari legitimasi sebuah sertifikat. Toh, banyak yang memegang ijazah Sarjana strata satu, dua bahkan tiga yang hanya bergantung pada tunjangan yang diberikan oleh negara. Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah kalangan Guru besar yang tuna karya. Mendapat tunjangan dari negara tapi tak memberikan karya bagi masyarakat. Hanya menyandang gelar profesornya begitu bangga.
Olehnya itu, saya sangat mengapresiasi Presiden Jokowi yang telah bertindak 'out of the box' dengan mengangkat Ibu Susi sebagai Menterinya. Ini adalah benar-benar revolusi mental, bahwa melihat profesionalitas seseorang bukan hanya diukur dari sejauh mana gelar yang melekat padanya atau jumlah ijazah yang dimiliki. Tapi karya nyata yang telah diberikan bagi dirinya dan masyarakat. Bukankah dengan kepemilikian SUSI AIR yang dipimpin oleh tamatan SMP telah memberikan lapangan kerja bagi kalangan starata satu adalah hal yang patut diapresiasi sebagai hasil kemampuan sesorang dalam menjalani kehidupannya. Maka dari itu, apapun stigma yang keluar dari mereka yang memang tak pernah setuju dengan kebijakan Presiden Jokowi tak perlu diperhatikan terlalu jauh karena justru itu hanya akan menghambat kinerja dalam membangun bangsa.
Sehingga apapun yang telah ditetapkan oleh presiden Jokowi harus diberi kesempatan untuk membuktikan kemampuannya sebagaimana selama ini yang dilakukannya. Kita hanya mengawasi dan jika ternyata ada hal yang keliru mereka kerjakan maka barulah disitu tugas kita mengomentarinya. Bukan mengutuk presiden dan menterinya sebelum mereka membuktikan kiberjanya. Negara ini adalah milik segenap rakyat Indonesia. Jokowi dan Menterinya hanya kebetulan saja diberi amanah menentukan kebijakannya. Tapi kita juga tidak dibungkam untuk bersuara, tidak dipenjara untuk mengkritik. Maka kritiklah hal yang bisa memberikan sumbangsi positif. Tentu saja, niat kita pada akhirnya baik. Ingin melihat negara ini lebih bermartabat lagi ke depannya tanpa membedakan starata sosial dan pendidikan rakyatnya. Disinlah kita memulai revolusi mental.
Monday, 20 October 2014
Ajit Tuharea : Negara Harus Memamfaatkan Potensi Energi dengan Benar
Novitasari : Nasionalisasi Migas Sebagai Wujud Eksplorasi untuk Mengatasi Krisis Energi di Indonesia
Muh.Rais Abidin : Lingkaran Setan Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM)
PEMERINTAH BARU HARUS MENCANANGKAN ENERGI ALTERNATIF
Masih terjadi pro dan kontra atas kebijakan ini. Namun, para ahli telah memberikan penjelasan bahwa pemotongan subsidi ini memang harus dilakukan agar bisa menghemat APBN yang jumlah cukup besar hanya untuk mensubsidi BBM yang 80 % lebih dinikmati oleh kalangan ekonomi atas.
Namun yang menjadi masalah baru adalah bahwa dengan kenaikan BBM maka biaya produksi, distribusi sejumlah kebutuhan ekonomi tentu akan mengalami peningkatan yang pada akhirnya juga akan mendorong naiknya harga barang komsumsi. Dimana ini dianggap akan memberatkan masyarakat berpendapatan rendah.
Maka dari itu hal yang perlu dilakukan pemerintah atas kebijakan pemotongan subsidi ini adalah melakukan pengawasan terhadap pasar terutama untuk kebutuhan pokok masyarakat agar tidak mengalami kenaikan yang besar. Selain itu, harus segera mencarikan upaya dalam mendobrok kondisi perekonomian masyarakat 'bawah' agar bisa bertahan dalam kondisi ini. Pengalokasin APBN dari subsidi BBM tentu harus tepat guna. Bukan saja berupa pemberian dana tunai berupa BLT, tapi program yang bisa memberikan dampak berkepanjangan bagi kelompok masyarakat untuk bisa mandiri.
Terakhir dari semua ini adalah upaya pewujudan penggunaan energi alternatif harus segera didorong dan dikembangkan sehingga ketergantungan industri dan pabrik-pabrik tidak melulu pada BBM yang kini jumlahnya juga semakin berkurang dan harganya semakin tinggi. Bangsa kita harus segera berani mengambil langkah baru dalam upaya memakai Sumber Energi Alternatif yang terbarukan. (FMPE)